BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Konsep
Pendidikan The Power Of Love adalah konsep yang mengarahkan pada ilmu jiwa
pendidikan. Yakni lebih mendasari pada rasa kasih sayang sebagai pola hubungan
yang terjadi diantara dua orang atau lebih. Yang di tandai oleh rasa
menyayangi, hormat, saling memperthatikan, dll.
Kasih
sayang merupakan kebutuhan alamiah manusia. Seorang anak lebih membutuhkan
kasih sayang dari orang tua atau orang yang dewasa disekitarnya. Kasih sayang
juga akan mempengaruhi kesehatan fisik. Karena limpahan kasih sayang akan
memberikan bentuk apresiasi diri terhadap lingkunganya. Maka dari itu, kasih
sayang sangat dibutuhkan sekaligus penting diberikan ketika sedang memberikan
pelajaran pada anak. Anak akan lebih mudah dan lebih bisa menerima nasehat atau
didikan, sehingga mereka akan terbiasa pada lingkungan yang membuat dirinya
merasa nyaman dan menyenangkan.
Peran
kasih sayang dalam pendidikan sangat penting sebagai salah satu bentuk motivasi
pengembangan kecerdasan emosional yang di tumbuh kembangkan dalam dirinya. Rasa
cinta hadir dalam bentuk subjek dan objek.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa arti ilmu jiwa Pendidikan dalam
konsep pendidikan The Power Of Love?
2.
Bagaimana pengajaran dalam konsep
pendidikan The Power Of Love?
3.
Bagaimana pembelajaran dalam konsep
pendidikan The Power Of Love?
4.
Bagaimana pelajaran dalam konsep
pendidikan The Power Of Love?
BAB
II
PEMBAHASAN
Ekpresikan cintamu terhadap anakmu dengan ciuman karena Nabi
bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki
derajat tersendiri di surga.”
Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang bak pelita bagi hati. Barangsiapa yang mencintai dirinya dan ingin dicintai orang lain maka ia harus menghidupkan perasaan kasih sayang dalam dirinya. Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara guru dan murid. Ketika seseorang guru, misalnya, tidak mencintai anak didiknya maka bagaimana mungkin ia mampu mengarahkan dan membimbingnya. Karena itu, kasih sayang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, dan ia bisa dikategorikan sebagai salah satu faktor utama dalam pendidikan dan dalam membangun hubungan/interaksi yang harmonis antara pendidik dan anak didiknya.
Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang bak pelita bagi hati. Barangsiapa yang mencintai dirinya dan ingin dicintai orang lain maka ia harus menghidupkan perasaan kasih sayang dalam dirinya. Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara guru dan murid. Ketika seseorang guru, misalnya, tidak mencintai anak didiknya maka bagaimana mungkin ia mampu mengarahkan dan membimbingnya. Karena itu, kasih sayang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, dan ia bisa dikategorikan sebagai salah satu faktor utama dalam pendidikan dan dalam membangun hubungan/interaksi yang harmonis antara pendidik dan anak didiknya.
Sebaik-baik metode hubungan adalah hubungan yang dibangun
atas dasar kasih sayang. Kenapa? Karena sistem hubungan ini begitu alami,
sedangkan hubungan yang dibangun atas dasar pemaksaan dan kekerasan dengan cara
apapun adalah hubungan yang tidak alami alias tidak normal.
Secara psikologis anak-anak membutuhkan dalam pergaulan dan
persahabatan dengan mereka kasih sayang dan perhatian. Orang tua sebagai
pembimbing awal anak-anak harus memperhatikan apakah kasih sayang sudah
terpenuhi dengan baik pada mereka, karena kasih sayang merupakan pilar dan pondasi
dalam pendidikan. Ketika kasih sayang terpenuhi dengan baik maka akan terwujud
ketenangan jiwa, perasaan aman, percaya diri, dan timbulnya kepercayaan kepada
orang tua. Bahkan sejatinya kasih sayang yang didapatkan seorang anak secara
proporsional akan berpengaruh pada keselamatan jasmani anak tersebut. Nabi
bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki
derajat tersendiri di surga.” Oleh karena itu, tanggung jawab terpenting orang
tua terhadap anaknya adalah berinteraksi dengan lemah lembut dan penuh kasah
sayang serta menampakkan kasih sayang tersebut kepada anak-anaknya secara
nyata. Selain cara ini, tidak akan tercipta hubungan baik yang mampu mendorong
pada perkembangan dan penyempurnaan mental dan spiritual anak. Hubungan yang
dingin, hampa dan tanpa cinta akan mengakibatkan kekeringan ruh dan jiwa dan
akhirnya akan mengiring anak-anak bertindak amoral dan berbuat doa di tengah
masyarakat. Dengan kata lain, boleh jadi anak-anak yang berbuat nakal dan
membuat kerusakan di luar rumah adalah anak-anak yang kurang atau bahkan tidak
mendapatkan kasih sayang orang tua dan orang-orang dekatnya.
Urgensi Kasih Sayang
Kasih sayang menciptakan kerja sama di antara manusia. Bila
Kasih sayang tidak ada maka tidak akan terwujud persaudaraan di antara manusia;
tak seorang pun yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap orang lain;
keadilan dan pengorbanan akan menjadi hal yang absurd utopis. Oleh sebab itu,
sikap kasih sayang sesama manusia, khususnya dalam dunia pengajaran dan pendidikan,
adalah hal esensial. Di samping itu, kasih sayang juga menyebabkan keselamatan
jasmani dan ruhani, menjadi solusi tepat dalam memperbaiki perilaku amoral dan
mengharmoniskan hubungan manusia.
Allah Swt melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan
firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran:
76). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al
Imran: 138). Jadi, hubungan antar sesama manusia, khususnya anak-anak harus
dibangun berdasarkan bahasa cinta dan kasih sayang. Dunia pendidikan akan
sukses dan makmur kalau pelbagai jenjangnya ditempuh dengan irama cinta.
Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.
Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.
Begitu penting peran kasih sayang dalam pengembangan ruh dan
keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku
seorang anak bergantung banyak sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama
masa pendidikan. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan
kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang
penuh kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka
mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta
dan kasih sayang yang diterima anak-anak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna,
membangkitkan semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta
mendorong untuk bekerja/berusaha secara kreatif.
A. Pengertian
Kasih Sayang
(Dephlie, 2005)
mengemukakan bahwa kasih sayang adalah pola hubungan yang unik diantara dua
orang manusia atau lebih. Kasih sayang adalah kebutuhan asasi setiap orang.
Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang, akan tumbuh menjadi anak
yang mandiri dan kuat. Kasih sayang mempengaruhi kesehatan fisik. Anak-anak
yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang orang tuanya, tubuhnya lebih sehat
dari anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang.
Kasih sayang
juga akan menyelamatkan anak-anak dari sifat kerdil. Anak-anak yang kurang atau
tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya akan tumbuh sebagai anak yang
merasa terkucilkan. Anak tersebut akan membenci orang tua, orang lain dan
kemungkinan besar akan menjadi anak-anak yang suka melakukan hal-hal yang
berbahaya. Dalam proses pendidikan di sekolah yaitu peran orang tua digantikan
oleh pendidik, pola hubungan mendidik perlu dilandasi oleh kasih sayang dari
pendidik kepada peserta didik agar terjalin ikatan perasaan yang dapat
mendukung tercapainya tujuan pendidikan
Kasih sayang
memiliki peranan yang penting dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa
anak-anak. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang dapat menimbulkan
kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang
penuh dengan kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia,
senang mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat (Seefeld,
2002).
B. Urgensi Kasih
Sayang dan Cara Mengekspresikan Kasih Sayang
Kasih sayang
menciptakan kerja sama di antara manusia. Bila Kasih sayang tidak ada maka
tidak akan terwujud persaudaraan di antara manusia; tak seorang pun yang merasa
memiliki tanggung jawab terhadap orang lain; keadilan dan pengorbanan akan
menjadi hal yang absurd utopis. Oleh sebab itu, sikap kasih sayang sesama
manusia, khususnya dalam dunia pengajaran dan pendidikan, adalah hal esensial.
Di samping itu, kasih sayang juga menyebabkan keselamatan jasmani dan ruhani,
menjadi solusi tepat dalam memperbaiki perilaku amoral dan mengharmoniskan
hubungan manusia.
Allah Swt
melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan firman-Nya: “Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran: 76). “Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Imran: 138). Jadi, hubungan
antar sesama manusia, khususnya anak-anak harus dibangun berdasarkan bahasa
cinta dan kasih sayang. Dunia pendidikan akan sukses dan makmur kalau pelbagai
jenjangnya ditempuh dengan irama cinta.
Kasih sayang
begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi
saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”
Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih
sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua
tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut
orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak
mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.
Begitu penting
peran kasih sayang dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak.
Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung banyak
sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama masa pendidikan. Kondisi
keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan kelembutan sikap anak-anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan
perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka mencintai orang lain dan
berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta dan kasih sayang yang
diterima anak-anak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, membangkitkan
semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta mendorong untuk
bekerja/berusaha secara kreatif.
Kecintaan pada anak-anak dan remaja merupakan dasar ajaran Islam. Nabi Besar Muhammad saw sangat mencintai anak-anak dan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka.” Maka, orang tua harus menunjukkan ketulusan cintanya kepada anaknya, sehingga anak tersebut akan membalas positif sikap demikian.
Orang tua pada
umumnya ingin sekali mengubah watak buruk anaknya, membentuk jati dirinya, dan
menanamkan keyakinan yang benar dalam pikirannya. Keinginan orang tua ini tidak
mungkin terwujud tanpa cinta dan motivasi menuju perkembangan dan
penyempurnaan.
Kasih sayang
begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Antara kasih sayang
dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Hasil dari kasih sayang orang tua ini
akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang
diamanahkan kepada mereka. Peran kasih sayang sangat penting dalam pengembangan
ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh atau tidaknya pendirian dan kebaikan
perilaku seorang anak bergantung besarnya kasih sayang yang diterima selama
masa pendidikan.
Manusia secara
alami membutuhkan kasih sayang. Hanya kasih sayang yang mampu mengubah perilaku
seseorang. Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama
membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat
penting dalam sistem pengajaran dan pendidikan anak-anak. Ketika seorang anak
melihat ikatan kasih sayang pada kedua orang tuanya, maka hal tersebut dapat
berpengaruh dalam menjauhkannya dari perbuatan tercela (Mahmud, 1990)
Anak-anak dan
remaja lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan orang dewasa. Dalam dekapan
kasih sayang, perasaan cinta dan kelembutan anak/remaja dapat berkembang dengan
baik dan akan berubah menjadi manusia yang ideal. Seorang pendidik yang
mengabaikan cinta dan kasih sayang, tidak akan mampu membangun hubungan yang
baik dengan peserta didiknya dan pendidik pasti gagal dalam menyampaikan
pesan-pesan pendidikan kepada peserta didik.
Metode yang
paling berpengaruh dan efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih sayang.
Rasa cinta dan kasih sayang harus terlebih dahulu menjadi jaminan ketenangan
anak-anak di lingkungan keluarga sebelum berhadapan dengan berbagai aturan dan
keputusan yang dibuat oleh orang tua. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa anak-anak
akan terpenuhi jika sebuah keluarga dapat menjadi pusat ekspresi perasaan,
kasih sayang, dan kecintaan (Dephlie, 2005)
Salah satu poin
penting berkaitan dengan kasih sayang orang tua terhadap anak adalah hendaknya
orang tua tidak hanya puas dengan memendam kasih sayang dalam batin karena
kasih sayang hanya berpengaruh dalam pendidikan jika ditampakkan secara
lahiriah, supaya anak-anak sadar dan mengetahuinya secara langsung.
Orang tua yang
cerdas adalah orang tua yang pandai mengekspresikan kasih sayangnya secara
tepat kepada anak-anaknya sehingga bisa dirasakan langsung oleh mereka. Ketika
anak merasakan bahwa orang tuanya menyukainya, peduli akan nasibnya,
mengarahkannya pada perkembangan dan penyempurnaan dan memperhatikan
pendidikannya, maka anak tersebut akan mencintai dan mengidolakan kedua orang
tuanya (Padmonodewo, 2003)
C. Bersikap Adil
dalam Mencurahkan Kasih Sayang
Salah satu
masalah penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah bersikap adil
dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak (Sadulloh, 2007) Kasih sayang
terhadap anak memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Kasih sayang
akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. Semakin besar kasih sayang orang
tua pada anak maka kegembiraan pada anak akan semakin besar pula dan menjadikan
hati anak semakin peduli dan perhatian.
Anak belajar
kasih sayang dari orang tua kemudian anak akan menerapkan kasih sayang tersebut
kepada orang lain. Anak yang tidak merasakan kasih sayang akan mendapatkan
pengaruh negatif pada tubuh dan jiwanya serta akan bermasalah dalam mempelajari
kasih sayang sehingga anak tidak mampu mencintai dan menyayangi orang lain di
masa yang akan datang.
Muncul rasa
kepercayaan diri. Anak yang memiliki kepercayaan diri mampu memecahkan
persoalan sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari orang lain. Dengan
motivasi dan tekad yang besar, anak akan berusaha mencari solusi dari setiap
masalah yang dihadapinya.
Kasih sayang
akan memotivasi anak-anak untuk melakukan berbagai aktivitas dengan sukses. Di
bidang pendidikan, anak akan menjadi orang yang cerdas dan terampil serta
secara fisik anak akan tumbuh sehat.
Kasih sayang
mampu menarik simpati anak. Dengan demikian, anak akan mudah dididik dan
diarahkan oleh orang tua. Anak menyukai orang yang penyayang dan memahami
keinginannya. Orang seperti ini, anak dapat temukan pada pribadi kedua orang
tua sehingga anak akan menuruti perintah kedua orang tuanya (Wardani,
2002)
Orang tua dalam mencintai dan menyayangi
anak-anak tidak dibenarkan untuk bersikap pilih kasih karena akan menyebabkan
hilangnya kepercayaan anak-anak terhadap lingkungan keluarga sehingga anak-anak
menjadi tidak betah untuk tinggal di rumah. Hal ini juga dapat menyebabkan
hubungan antara orang tua dengan anak semakin jauh.
D. Dampak Kasih
Sayang yang Berlebihan
Kasih sayang
orang tua memang penting tetapi kalau terlalu berlebihan akan mendatangkan
akibat yang tidak diharapkan. Anak-anak adalah manusia yang masih kecil dan
harus dididik untuk menyongsong masa depannya. Orang tua yang baik harus
mempersiapkan sesuatu untuk masa depan anak-anaknya. Anak-anak harus dididik
supaya menjadi manusia yang tangguh di hari esok. Jangan membiarkan anak-anak
menjadi tidak berdaya dan selalu mengharapkan bantuan dari orang lain
(Sadulloh, 2007). Adapun akibat negatif dari kasih sayang yang berlebihan,
diantaranya:
1. Akan tumbuh
sikap yang ingin selalu diperlakukan secara istimewa. Ketika hidup di
tengah-tengah masyarakat, anak ingin semua orang memperlakukan dirinya seperti
orang tuanya dulu melayani dirinya. Manusia seperti itu akan mudah putus asa
kalau keinginannya tidak ada yang memperhatikan dan tidak memperoleh simpati
dari orang lain.
2.
Anak-anak yang
selalu dimanja akan mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya
3.
Anak-anak yang
selalu dimanja akan menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan
kepercayaan diri, tidak berani mengambil resiko, dan selalu mengharapkan
bantuan dari orang lain.
4.
Anak-anak tidak
mau lagi mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
Orang tuanya telah memenuhi segala keinginannya, pujian dan segalanya menjadi
gambaran semu dirinya.
5.
Anak-anak yang
selalu dimanjakan dengan segala kesenangan, kelak jika sudah besar akan tumbuh
menjadi manusia yang sombong dan suka memaksakan kehendak.
Peran kasih sayang dalam pendidikan ruh dan
jiwa peserta didik sangat penting seperti pentingnya makanan bagi pertumbuhan
tubuh. Sebagaimana makanan yang kurang atau berlebihan dapat menyebabkan
penyakit yang tidak diinginkan pada tubuh. Begitu pun kurangnya kasih sayang
atau kasih sayang yang sangat berlebihan (terlalu dimanja) dapat merusak jiwa
peserta didik.
Kasih sayang akan berdampak positif apabila
dilakukan secara seimbang. Namun, jika kasih sayang orang tua berlebihan maka
secara tidak sadar orang tua telah mengajak anak untuk melakukan perbuatan yang
tidak bertanggung jawab. Hal ini merupakan dampak dari metode pendidikan yang salah.
Anak yang mendapatkan kasih sayang secara berlebihan (dimanja) cenderung akan
menjadi malas, pasrah, lemah dan cepat putus asa ketika menghadapi masalah
kecil dalam hidupnya (Samples, 1990)
Orang tua harus mencintai anak-anak secara
tulus, tetapi tetap objektif. Yakni orang tua juga harus melihat sifat-sifat
tercela anaknya, kemudian memperbaiki dengan pendekatan rasional. Menerima
seperti itu saja keinginan dan perbuatan anak-anak tanpa mempertimbangkan
kerugian dan kelebihannya akan berdampak negatif dalam pendidikan anak-anak dan
dapat merusak karakter anak-anak yang sulit untuk diperbaiki seperti semula
(Semiawan, 2002)
E. Peranan Kasih
Sayang dalam Pendidikan
(Wardani, 2002) mengemukakan bahwa seorang
pendidik harus melakukan berbagai peran dalam menjalankan suatu proses
pendidikan, diantaranya:
1.
Pendidik
sebagai pembimbing, dengan kasih sayang yang diberikan oleh pendidik, peserta
didik akan mendapatkan bimbingan untuk menjalani kehidupan yang sedang dialami
sekarang maupun bekal kehidupan di masa yang akan datang. Dalam berbagai kasus
tidak sedikit ditemukan akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang
tuanya, pendidik ditempatkan sebagai tempat bertanya, mengadu, meminta
pendapat, berkeluh kesah, dan berlindung.
2.
Pendidik sebagai
pembentuk kepribadian, tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri, bunuh diri
atau kejahatan-kejahatan lainnya bisa dilakukan oleh seorang peserta didik
akibat kehilangan kasih sayang dari orang tua atau siapa saja. Kata “siapa
saja” mengindikasikan bahwa di samping orang tua ada pihak lain yang dapat
menjadi penyebab hancurnya kepribadian seorang peserta didik. Pendidik yang
baik akan memperhatikan hal ini sebagai bagian dari perannya dalam menjalankan
proses pendidikan.
3.
Pendidik
sebagai tempat perlindungan, akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang
tua, banyak anak yang kabur dari rumah. Dalam tindakan ini, anak akan mencari
perlindungan kepada siapa saja yang dianggap dekat. Beruntung jika mereka
mendapat tempat berlindung pada orang yang berlatar belakang baik, tetapi jika
sebaliknya maka akan berakibat merusak masa depannya. Menyikapi kasus ini, jika
seorang pendidik dapat memberikan kasih sayang maka ada kecenderungan anak
untuk mencari perlindungan kepadanya. Pada kondisi ini, pendidik idealnya
berlaku bijaksana, mendengarkan masalah yang dihadapi anak, memberikan nasehat
dan sebisa mungkin menyadarkan tindakan yang dilakukan anak.
4. Pendidik
sebagai figur teladan, dalam kehidupan keluarga, orang tua pasti mencintai anak
anaknya. Tetapi kasih sayang saja tidak cukup untuk memenuhi tuntutan
psikologis anak-anak. Kasih sayang harus terwujud melalui perilaku secara
konkret. Kasih sayang yang terwujud melalui perilaku secara psikologis akan
dapat dirasakan oleh anak dan dapat menjadi contoh atau tauladan. Seorang
pendidik yang berperilaku ramah, hangat, dan selalu tersenyum, tidak
memperlihatkan muka kesal, merespon pembicaraan peserta didik, dapat
menumbuhkan kondisi psikologis yang menyenangkan bagi peserta didik. Peserta
didik tidak takut berbicara, dapat mencurahkan isi hatinya saat menghadapi
masalah dan peserta didik akan senang melibatkan diri dalam kegiatan di
sekolah. Perilaku peserta didik yang terbentuk ini pada dasarnya merupakan
hasil dari mencontoh atau mentauladani perilaku yang diperlihatkan pendidik
(Rahmat, 2010)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidik
sebagai sumber pengetahuan, kasih sayang orang tua sampai kapan pun harus tetap
ada karena anak-anak sangat membutuhkannya. Dalam proses pendidikan yaitu adanya
transformasi pengetahuan sikap memberi dan melarang seharusnya dilakukan dengan
hati-hati terhadap peserta didik. Pengetahuan dapat merubah sikap dan perilaku
peserta didik. Dapat berubah positif apabila pengetahuan yang diterima peserta
didik sesuai dengan masanya dan sebaliknya apabila tidak sesuai maka akan
membentuk perilaku peserta didik yang negatif. Oleh karena itu, seorang
pendidik harus memahami bahwa dalam mentransfer pengetahuan harus didasari
dengan kasih sayang.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, 2008. Pendidikan Dasar Teori dan Praktis. Padang
: UNP
Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi. 2005.
Dasar-dasar evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Bahri Djamarah, M.Ag., Drs. Syaiful.
2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Departemen Agama RI. 2005. Pedoman
Pelaksanaan Kurikulum Raudatul Athfal. Jakarta: Departemen Agama RI.
Drs. Harijanto. 2005. Perencanaan
Pengajaran.Jakarta: PT Rineka Cipta.