Kamis, 02 Juni 2016

THE POWER OF LOVE DALAM PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Konsep Pendidikan The Power Of Love adalah konsep yang mengarahkan pada ilmu jiwa pendidikan. Yakni lebih mendasari pada rasa kasih sayang sebagai pola hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih. Yang di tandai oleh rasa menyayangi, hormat, saling memperthatikan, dll.
Kasih sayang merupakan kebutuhan alamiah manusia. Seorang anak lebih membutuhkan kasih sayang dari orang tua atau orang yang dewasa disekitarnya. Kasih sayang juga akan mempengaruhi kesehatan fisik. Karena limpahan kasih sayang akan memberikan bentuk apresiasi diri terhadap lingkunganya. Maka dari itu, kasih sayang sangat dibutuhkan sekaligus penting diberikan ketika sedang memberikan pelajaran pada anak. Anak akan lebih mudah dan lebih bisa menerima nasehat atau didikan, sehingga mereka akan terbiasa pada lingkungan yang membuat dirinya merasa nyaman dan menyenangkan.
Peran kasih sayang dalam pendidikan sangat penting sebagai salah satu bentuk motivasi pengembangan kecerdasan emosional yang di tumbuh kembangkan dalam dirinya. Rasa cinta hadir dalam bentuk subjek dan objek.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa arti ilmu jiwa Pendidikan dalam konsep pendidikan The Power Of Love?
2.      Bagaimana pengajaran dalam konsep pendidikan The Power Of Love?
3.      Bagaimana pembelajaran dalam konsep pendidikan The Power Of Love?
4.      Bagaimana pelajaran dalam konsep pendidikan The Power Of Love?




BAB II
PEMBAHASAN

Ekpresikan cintamu terhadap anakmu dengan ciuman karena Nabi bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki derajat tersendiri di surga.”
            Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang bak pelita bagi hati. Barangsiapa yang mencintai dirinya dan ingin dicintai orang lain maka ia harus menghidupkan perasaan kasih sayang dalam dirinya. Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara guru dan murid. Ketika seseorang guru, misalnya, tidak mencintai anak didiknya maka bagaimana mungkin ia mampu mengarahkan dan membimbingnya. Karena itu, kasih sayang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, dan ia bisa dikategorikan sebagai salah satu faktor utama dalam pendidikan dan dalam membangun hubungan/interaksi yang harmonis antara pendidik dan anak didiknya.
Sebaik-baik metode hubungan adalah hubungan yang dibangun atas dasar kasih sayang. Kenapa? Karena sistem hubungan ini begitu alami, sedangkan hubungan yang dibangun atas dasar pemaksaan dan kekerasan dengan cara apapun adalah hubungan yang tidak alami alias tidak normal.
Secara psikologis anak-anak membutuhkan dalam pergaulan dan persahabatan dengan mereka kasih sayang dan perhatian. Orang tua sebagai pembimbing awal anak-anak harus memperhatikan apakah kasih sayang sudah terpenuhi dengan baik pada mereka, karena kasih sayang merupakan pilar dan pondasi dalam pendidikan. Ketika kasih sayang terpenuhi dengan baik maka akan terwujud ketenangan jiwa, perasaan aman, percaya diri, dan timbulnya kepercayaan kepada orang tua. Bahkan sejatinya kasih sayang yang didapatkan seorang anak secara proporsional akan berpengaruh pada keselamatan jasmani anak tersebut. Nabi bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki derajat tersendiri di surga.” Oleh karena itu, tanggung jawab terpenting orang tua terhadap anaknya adalah berinteraksi dengan lemah lembut dan penuh kasah sayang serta menampakkan kasih sayang tersebut kepada anak-anaknya secara nyata. Selain cara ini, tidak akan tercipta hubungan baik yang mampu mendorong pada perkembangan dan penyempurnaan mental dan spiritual anak. Hubungan yang dingin, hampa dan tanpa cinta akan mengakibatkan kekeringan ruh dan jiwa dan akhirnya akan mengiring anak-anak bertindak amoral dan berbuat doa di tengah masyarakat. Dengan kata lain, boleh jadi anak-anak yang berbuat nakal dan membuat kerusakan di luar rumah adalah anak-anak yang kurang atau bahkan tidak mendapatkan kasih sayang orang tua dan orang-orang dekatnya.

Urgensi Kasih Sayang
Kasih sayang menciptakan kerja sama di antara manusia. Bila Kasih sayang tidak ada maka tidak akan terwujud persaudaraan di antara manusia; tak seorang pun yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap orang lain; keadilan dan pengorbanan akan menjadi hal yang absurd utopis. Oleh sebab itu, sikap kasih sayang sesama manusia, khususnya dalam dunia pengajaran dan pendidikan, adalah hal esensial. Di samping itu, kasih sayang juga menyebabkan keselamatan jasmani dan ruhani, menjadi solusi tepat dalam memperbaiki perilaku amoral dan mengharmoniskan hubungan manusia.
Allah Swt melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran: 76). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Imran: 138). Jadi, hubungan antar sesama manusia, khususnya anak-anak harus dibangun berdasarkan bahasa cinta dan kasih sayang. Dunia pendidikan akan sukses dan makmur kalau pelbagai jenjangnya ditempuh dengan irama cinta.
Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.
Begitu penting peran kasih sayang dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung banyak sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama masa pendidikan. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta dan kasih sayang yang diterima anak-anak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, membangkitkan semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta mendorong untuk bekerja/berusaha secara kreatif.

A.    Pengertian Kasih Sayang
(Dephlie, 2005) mengemukakan bahwa kasih sayang adalah pola hubungan yang unik diantara dua orang manusia atau lebih. Kasih sayang adalah kebutuhan asasi setiap orang. Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang, akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan kuat. Kasih sayang mempengaruhi kesehatan fisik. Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang orang tuanya, tubuhnya lebih sehat dari anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang.
Kasih sayang juga akan menyelamatkan anak-anak dari sifat kerdil. Anak-anak yang kurang atau tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya akan tumbuh sebagai anak yang merasa terkucilkan. Anak tersebut akan membenci orang tua, orang lain dan kemungkinan besar akan menjadi anak-anak yang suka melakukan hal-hal yang berbahaya. Dalam proses pendidikan di sekolah yaitu peran orang tua digantikan oleh pendidik, pola hubungan mendidik perlu dilandasi oleh kasih sayang dari pendidik kepada peserta didik agar terjalin ikatan perasaan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan
Kasih sayang memiliki peranan yang penting dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang dapat menimbulkan kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, senang mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat (Seefeld, 2002).

B.     Urgensi Kasih Sayang dan Cara Mengekspresikan Kasih Sayang
Kasih sayang menciptakan kerja sama di antara manusia. Bila Kasih sayang tidak ada maka tidak akan terwujud persaudaraan di antara manusia; tak seorang pun yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap orang lain; keadilan dan pengorbanan akan menjadi hal yang absurd utopis. Oleh sebab itu, sikap kasih sayang sesama manusia, khususnya dalam dunia pengajaran dan pendidikan, adalah hal esensial. Di samping itu, kasih sayang juga menyebabkan keselamatan jasmani dan ruhani, menjadi solusi tepat dalam memperbaiki perilaku amoral dan mengharmoniskan hubungan manusia.
Allah Swt melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran: 76). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Imran: 138). Jadi, hubungan antar sesama manusia, khususnya anak-anak harus dibangun berdasarkan bahasa cinta dan kasih sayang. Dunia pendidikan akan sukses dan makmur kalau pelbagai jenjangnya ditempuh dengan irama cinta.
Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.
Begitu penting peran kasih sayang dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung banyak sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama masa pendidikan. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta dan kasih sayang yang diterima anak-anak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, membangkitkan semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta mendorong untuk bekerja/berusaha secara kreatif.

Kecintaan pada anak-anak dan remaja merupakan dasar ajaran Islam. Nabi Besar Muhammad saw sangat mencintai anak-anak dan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka.” Maka, orang tua harus menunjukkan ketulusan cintanya kepada anaknya, sehingga anak tersebut akan membalas positif sikap demikian.
Orang tua pada umumnya ingin sekali mengubah watak buruk anaknya, membentuk jati dirinya, dan menanamkan keyakinan yang benar dalam pikirannya. Keinginan orang tua ini tidak mungkin terwujud tanpa cinta dan motivasi menuju perkembangan dan penyempurnaan.
Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Hasil dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka. Peran kasih sayang sangat penting dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh atau tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung besarnya kasih sayang yang diterima selama masa pendidikan.
Manusia secara alami membutuhkan kasih sayang. Hanya kasih sayang yang mampu mengubah perilaku seseorang. Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam sistem pengajaran dan pendidikan anak-anak. Ketika seorang anak melihat ikatan kasih sayang pada kedua orang tuanya, maka hal tersebut dapat berpengaruh dalam menjauhkannya dari perbuatan tercela (Mahmud, 1990)
Anak-anak dan remaja lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan orang dewasa. Dalam dekapan kasih sayang, perasaan cinta dan kelembutan anak/remaja dapat berkembang dengan baik dan akan berubah menjadi manusia yang ideal. Seorang pendidik yang mengabaikan cinta dan kasih sayang, tidak akan mampu membangun hubungan yang baik dengan peserta didiknya dan pendidik pasti gagal dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada peserta didik.
Metode yang paling berpengaruh dan efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih sayang. Rasa cinta dan kasih sayang harus terlebih dahulu menjadi jaminan ketenangan anak-anak di lingkungan keluarga sebelum berhadapan dengan berbagai aturan dan keputusan yang dibuat oleh orang tua. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa anak-anak akan terpenuhi jika sebuah keluarga dapat menjadi pusat ekspresi perasaan, kasih sayang, dan kecintaan (Dephlie, 2005)
Salah satu poin penting berkaitan dengan kasih sayang orang tua terhadap anak adalah hendaknya orang tua tidak hanya puas dengan memendam kasih sayang dalam batin karena kasih sayang hanya berpengaruh dalam pendidikan jika ditampakkan secara lahiriah, supaya anak-anak sadar dan mengetahuinya secara langsung.

Orang tua yang cerdas adalah orang tua yang pandai mengekspresikan kasih sayangnya secara tepat kepada anak-anaknya sehingga bisa dirasakan langsung oleh mereka. Ketika anak merasakan bahwa orang tuanya menyukainya, peduli akan nasibnya, mengarahkannya pada perkembangan dan penyempurnaan dan memperhatikan pendidikannya, maka anak tersebut akan mencintai dan mengidolakan kedua orang tuanya (Padmonodewo, 2003)

C.    Bersikap Adil dalam Mencurahkan Kasih Sayang
Salah satu masalah penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah bersikap adil dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak (Sadulloh, 2007) Kasih sayang terhadap anak memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Kasih sayang akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. Semakin besar kasih sayang orang tua pada anak maka kegembiraan pada anak akan semakin besar pula dan menjadikan hati anak semakin peduli dan perhatian.
Anak belajar kasih sayang dari orang tua kemudian anak akan menerapkan kasih sayang tersebut kepada orang lain. Anak yang tidak merasakan kasih sayang akan mendapatkan pengaruh negatif pada tubuh dan jiwanya serta akan bermasalah dalam mempelajari kasih sayang sehingga anak tidak mampu mencintai dan menyayangi orang lain di masa yang akan datang.
Muncul rasa kepercayaan diri. Anak yang memiliki kepercayaan diri mampu memecahkan persoalan sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari orang lain. Dengan motivasi dan tekad yang besar, anak akan berusaha mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.
Kasih sayang akan memotivasi anak-anak untuk melakukan berbagai aktivitas dengan sukses. Di bidang pendidikan, anak akan menjadi orang yang cerdas dan terampil serta secara fisik anak akan tumbuh sehat.
Kasih sayang mampu menarik simpati anak. Dengan demikian, anak akan mudah dididik dan diarahkan oleh orang tua. Anak menyukai orang yang penyayang dan memahami keinginannya. Orang seperti ini, anak dapat temukan pada pribadi kedua orang tua sehingga anak akan menuruti perintah kedua orang tuanya  (Wardani, 2002)
Orang tua dalam mencintai dan menyayangi anak-anak tidak dibenarkan untuk bersikap pilih kasih karena akan menyebabkan hilangnya kepercayaan anak-anak terhadap lingkungan keluarga sehingga anak-anak menjadi tidak betah untuk tinggal di rumah. Hal ini juga dapat menyebabkan hubungan antara orang tua dengan anak semakin jauh.
D.    Dampak Kasih Sayang yang Berlebihan
Kasih sayang orang tua memang penting tetapi kalau terlalu berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Anak-anak adalah manusia yang masih kecil dan harus dididik untuk menyongsong masa depannya. Orang tua yang baik harus mempersiapkan sesuatu untuk masa depan anak-anaknya. Anak-anak harus dididik supaya menjadi manusia yang tangguh di hari esok. Jangan membiarkan anak-anak menjadi tidak berdaya dan selalu mengharapkan bantuan dari orang lain (Sadulloh, 2007). Adapun akibat negatif dari kasih sayang yang berlebihan, diantaranya:
1.      Akan tumbuh sikap yang ingin selalu diperlakukan secara istimewa. Ketika hidup di tengah-tengah masyarakat, anak ingin semua orang memperlakukan dirinya seperti orang tuanya dulu melayani dirinya. Manusia seperti itu akan mudah putus asa kalau keinginannya tidak ada yang memperhatikan dan tidak memperoleh simpati dari orang lain.
2.      Anak-anak yang selalu dimanja akan mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya
3.      Anak-anak yang selalu dimanja akan menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri, tidak berani mengambil resiko, dan selalu mengharapkan bantuan dari orang lain.
4.      Anak-anak tidak mau lagi mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang diterimanya. Orang tuanya telah memenuhi segala keinginannya, pujian dan segalanya menjadi gambaran semu dirinya.
5.      Anak-anak yang selalu dimanjakan dengan segala kesenangan, kelak jika sudah besar akan tumbuh menjadi manusia yang sombong dan suka memaksakan kehendak.
Peran kasih sayang dalam pendidikan ruh dan jiwa peserta didik sangat penting seperti pentingnya makanan bagi pertumbuhan tubuh. Sebagaimana makanan yang kurang atau berlebihan dapat menyebabkan penyakit yang tidak diinginkan pada tubuh. Begitu pun kurangnya kasih sayang atau kasih sayang yang sangat berlebihan (terlalu dimanja) dapat merusak jiwa peserta didik.
Kasih sayang akan berdampak positif apabila dilakukan secara seimbang. Namun, jika kasih sayang orang tua berlebihan maka secara tidak sadar orang tua telah mengajak anak untuk melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Hal ini merupakan dampak dari metode pendidikan yang salah. Anak yang mendapatkan kasih sayang secara berlebihan (dimanja) cenderung akan menjadi malas, pasrah, lemah dan cepat putus asa ketika menghadapi masalah kecil dalam hidupnya (Samples, 1990)
Orang tua harus mencintai anak-anak secara tulus, tetapi tetap objektif. Yakni orang tua juga harus melihat sifat-sifat tercela anaknya, kemudian memperbaiki dengan pendekatan rasional. Menerima seperti itu saja keinginan dan perbuatan anak-anak tanpa mempertimbangkan kerugian dan kelebihannya akan berdampak negatif dalam pendidikan anak-anak dan dapat merusak karakter anak-anak yang sulit untuk diperbaiki seperti semula (Semiawan, 2002)

E.     Peranan Kasih Sayang dalam Pendidikan
(Wardani, 2002) mengemukakan bahwa seorang pendidik harus melakukan berbagai peran dalam menjalankan suatu proses pendidikan, diantaranya:
1.      Pendidik sebagai pembimbing, dengan kasih sayang yang diberikan oleh pendidik, peserta didik akan mendapatkan bimbingan untuk menjalani kehidupan yang sedang dialami sekarang maupun bekal kehidupan di masa yang akan datang. Dalam berbagai kasus tidak sedikit ditemukan akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, pendidik ditempatkan sebagai tempat bertanya, mengadu, meminta pendapat, berkeluh kesah, dan berlindung.
2.      Pendidik sebagai pembentuk kepribadian, tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri, bunuh diri atau kejahatan-kejahatan lainnya bisa dilakukan oleh seorang peserta didik akibat kehilangan kasih sayang dari orang tua atau siapa saja. Kata “siapa saja” mengindikasikan bahwa di samping orang tua ada pihak lain yang dapat menjadi penyebab hancurnya kepribadian seorang peserta didik. Pendidik yang baik akan memperhatikan hal ini sebagai bagian dari perannya dalam menjalankan proses pendidikan.
3.      Pendidik sebagai tempat perlindungan, akibat tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, banyak anak yang kabur dari rumah. Dalam tindakan ini, anak akan mencari perlindungan kepada siapa saja yang dianggap dekat. Beruntung jika mereka mendapat tempat berlindung pada orang yang berlatar belakang baik, tetapi jika sebaliknya maka akan berakibat merusak masa depannya. Menyikapi kasus ini, jika seorang pendidik dapat memberikan kasih sayang maka ada kecenderungan anak untuk mencari perlindungan kepadanya. Pada kondisi ini, pendidik idealnya berlaku bijaksana, mendengarkan masalah yang dihadapi anak, memberikan nasehat dan sebisa mungkin menyadarkan tindakan yang dilakukan anak.
4.     Pendidik sebagai figur teladan, dalam kehidupan keluarga, orang tua pasti mencintai anak anaknya. Tetapi kasih sayang saja tidak cukup untuk memenuhi tuntutan psikologis anak-anak. Kasih sayang harus terwujud melalui perilaku secara konkret. Kasih sayang yang terwujud melalui perilaku secara psikologis akan dapat dirasakan oleh anak dan dapat menjadi contoh atau tauladan. Seorang pendidik yang berperilaku ramah, hangat, dan selalu tersenyum, tidak memperlihatkan muka kesal, merespon pembicaraan peserta didik, dapat menumbuhkan kondisi psikologis yang menyenangkan bagi peserta didik. Peserta didik tidak takut berbicara, dapat mencurahkan isi hatinya saat menghadapi masalah dan peserta didik akan senang melibatkan diri dalam kegiatan di sekolah. Perilaku peserta didik yang terbentuk ini pada dasarnya merupakan hasil dari mencontoh atau mentauladani perilaku yang diperlihatkan pendidik  (Rahmat, 2010)















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidik sebagai sumber pengetahuan, kasih sayang orang tua sampai kapan pun harus tetap ada karena anak-anak sangat membutuhkannya. Dalam proses pendidikan yaitu adanya transformasi pengetahuan sikap memberi dan melarang seharusnya dilakukan dengan hati-hati terhadap peserta didik. Pengetahuan dapat merubah sikap dan perilaku peserta didik. Dapat berubah positif apabila pengetahuan yang diterima peserta didik sesuai dengan masanya dan sebaliknya apabila tidak sesuai maka akan membentuk perilaku peserta didik yang negatif. Oleh karena itu, seorang pendidik harus memahami bahwa dalam mentransfer pengetahuan harus didasari dengan kasih sayang.













DAFTAR PUSTAKA

Prayitno, 2008. Pendidikan Dasar Teori dan Praktis. Padang : UNP
Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi. 2005. Dasar-dasar evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Bahri Djamarah, M.Ag., Drs. Syaiful. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Departemen Agama RI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudatul Athfal. Jakarta: Departemen Agama RI.
Drs. Harijanto. 2005. Perencanaan Pengajaran.Jakarta: PT Rineka Cipta.